Pendidikan Multikultural Sebagai Landasan Pembelajaran di Sekolah

multikultural-sebagai-landasan-pembelajaran
Pendidikan multikultural sebagai landasan pembelajaran memang tepat diterapkan di Indonesia karena kaya dengan keberagaman suku, budaya, agama, adat-istiadat, dan bahasa
Kebudayaan adalah salah satu landasan pengembangan dalam kurikulum (Taba, 1962) karena menurut Ki Hajar Dewantara akar pendidikan suatu bangsa adalah kebudayaan. Hal senada dikemukakan oleh Print (1993:15) yang mengatakan bahwa kurikulum merupakan konstruk dari kebudayaan.

Kebudayaan merupakan keseluruhan totalitas cara manusia hidup dan mengembangkan pola kehidupannya sehingga ia tidak saja menjadi landasan tetapi juga menjadi target hasil pengembangan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Longstreet dan Shane (1993:87) melihat kebudayaan berfungsi sebagai lingkungan kurikulum.

Lingkungan dapat dilihat dalam dua perspektif yaitu lingkungan eksternal dan internal. Lingkungan eksternal (tatanan sosial) adalah tempat sekolah itu berada, sedangkan lingkungan internal adalah pada masing-masing visi pendidik tentang bagaimana sekolah berfungsi dan kurikulum yang digunakan.

Kedudukan kebudayaan dalam suatu proses pembelajaran sangat penting tetapi dalam realita proses pengembangan sering hanya ditentukan oleh pandangan pengembang tentang perkembangan ilmu dan teknologi. Secara intrinsik filosofi, visi, dan tujuan pendidikan para pengembang pembelajaran sangat dipengaruhi oleh akar budaya pengembang yang melandasi pandangan hidupnya.

Longsreet dan Shane (1993:162) menyatakan bahwa kita umumnya tidak menyadari berbagai kualitas yang dibentuk oleh budaya yang menjadi ciri perilaku kita. Landasan lain yang diperlukan dalam pengembangan pembelajaran adalah teori belajar. Selama ini teori belajar yang dikenal banyak berasal dari aliran psikologi seperti behaviorisme dan kognitif.

Teori belajar dari pandangan ini sangat berguna karena memang dikembangkan berdasarkan hasil penelitian yang mendalam dan waktu yang lama. Tetapi, teori belajar tersebut memiliki asumsi bahwa siswa belajar dalam suatu situasi yang bebas nilai (value free), yang berarti pula bebas budaya.

Teori tersebut tidak memperhitungkan bahwa siswa yang belajar adalah suatu pribadi yang hidup dan bereaksi terhadap lingkungan baik itu lingkungan fisik, sosial, maupun lingkungan metafisik di mana ia hidup. Dalam bukunya yang berjudul sociocultural origins of achievement, Maehr (1974) mengatakan bahwa keterkaitan antara kebudayaan dan bahasa, persepsi, kognisi, keinginan berprestasi, motivasi berprestasi merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap belajar siswa.

Webb (1990) dan Burnett (1994) menunjukkan pentingnya pertimbangan budaya dalam meningkatkan proses belajar siswa. Delpit (Darling-Hammond, 1996:12) mengatakan bahwa kita semua menginterpretasikan perilaku, informasi, dan situasi melalui lensa budaya kita sendiri, yang tersirat di dalam cara pandang kita.

Hal senada dikemukakan pula oleh Wloodkowski dan Ginsberg (1995) yang menyatakan bahwa kebudayaan adalah dasar dari motivasi intrinsik dan mengembangkan model belajar yang komprehensif dalam arti pengajaran yang responsif terhadap kultural. Model ini merupakan pedagogi lintas disiplin dan lintas budaya. Jadi, sudah saatnya untuk memperhitungkan kebudayaan sebagai landasan penting dalam menentukan komponen tujuan, materi, proses, dan evaluasi suatu perencanaan dan pelaksanaan, dan kegiatan belajar siswa.

Pendidikan Multikultural digunakan oleh pendidik sebagai landasan pembelajaran di sekolah untuk menggambarkan kegiatan dengan siswa yang berbeda karena ras, gender, kelas, atau ketidakmampuan. Tujuan kemasyarakatan pendekatan ini adalah untuk mengurangi prasangka dan diskriminasi terhadap kelompok yang tertindas (oppressed groups), bekerja atas dasar kesempatan yang sama dan adanya keadilan sosial pada semua kelompok, serta distribusi kekuasaan yang adil di antara anggota kelompok budaya yang berbeda.

Pendekatan Pendidikan Multikultural mencoba mereformasi proses persekolahan secara keseluruhan tanpa memandang apakah sekolah itu sekolah pinggiran yang terbelakang atau sekolah kota yang maju.

Berbagai praktek dan proses di sekolah direkonstruksi kembali sehingga menjadi model sekolah yang berdasarkan persamaan dan pluralisme. Misalnya, pembelajaran diorganisir seputar konsep disiplin namun materi rincian dari konsep itu disajikan dari pengalaman dan perspektif dari berbagai kelompok berbeda.

Pembelajaran tidak memakai lagi pengelompokan berdasarkan kekuatan siswa dan tidak ada lagi praktek yang membeda-bedakan siswa. Siswa didorong untuk menganalisa isu lewat sudut pandang yang berbeda.

Andaikan Anda sedang mengajar sastra, Anda dapat memilih literatur yang ditulis oleh anggota kelompok yang berbeda. Ini bukan hanya mengajari siswa bahwa kelompok di luar kelompoknya telah menghasilkan karya sastra, namun juga memperkaya konsep sastra karena memungkinkan siswa menyelami bentuk sastra yang berbeda, di samping sastra universal tertentu semisal karya Shakespiere.

Perjuangan universal dapat diuji lewat bacaan dari kelompok yang saling berhadapan, misalnya, tentang gadis Alaska dalam Julie of the Wolves dan gadis Polynesia dalam Island of the Blue Dolphins di samping orang kulit putih dalam The Call of the Wild.

Juga penting bahwa kontribusi dan perspektif yang dipilih menggambarkan kelompoknya sendiri secara aktif dan dinamis. Ini mempersyaratkan bahwa Anda belajar tentang berbagai kelompok dan mejadi sadar tentang apa yang penting dan bermakna bagi mereka. Misalnya, guru mengajar tentang nilai kehormatan dan kesetiaan dari bangsa Jepang yang terdapat dalam tindakan “bunuh diri”.

Atau tindakan melukai tubuhnya sendiri hingga berdarah dan menceburkan dirinya ke sungai Gangga bagi sebagian bangsa India. Tindakan itu hanya bisa dipahami bila kita memahami apa yang penting dan bermakna bagi mereka.

India adalah bangsa yang sangat majemuk, namun kemajemukan masih kalah dibandingkan dengan kemajemukan Indonesia.Kenyataan ini diakui pula oleh seorang ahli sejarah India berbangsa Amerika, Wolpert (1965:7) yang mengatakan bahwa masyarakat India adalah lebih pluralistik dalam segala hal dibandingkan dengan negara lain di muka bumi ini kecuali Indonesia.

Indonesia adalah negara yang kaya dengan budaya seperti dinyatakan dalam motto nasional "Bhinneka Tunggal Ika (Bhina = berbeda; Tunggal = Satu; Ika = itu). Oleh karena itu, apabila kebudayaan adalah salah satu landasan kuat dalam pengembangan pembelajaran di Indonesia maka pembelajaran harus pula memperhatikan multikultural yang ada.

Pemberlakuan Undang-Undang nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah tidak otomatis memberlakukan pendekatan multikultural dalam pengembangan pembelajaran di Indonesia. Undang-undang yang memberikan wewenang pengelolaan pendidikan kepada pemerintah daerah tersebut tidak otomatis langsung menjadi pembelajaran yang berdasarkan pendekatan multikultural. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan pendekatan multikultural haruslah dikembangkan dengan kesadaran dan pemahaman yang mendalam tentang pendekatan multikultural.

Andersen dan Cusher (1994:320) mengatakan bahwa multikultural adalah pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Posisi kebudayaan menjadi sesuatu yang dipelajari; jadi berstatus sebagai obyek studi. Dengan perkataan lain, keragaman kebudayaan menjadi materi pelajaran yang harus diperhatikan para pengembang pembelajaran. Ini disebut belajar tentang budaya.

Pengertian pendidikan multikultural seperti di atas tentu terbatas dan hanya berguna bagi para pengembang pembelajaran dalam satu aspek saja yaitu dalam proses mengembangkan konten pembelajaran. Pengertian itu tidak dapat membantu para pengembang perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dalam menggunakan budaya, dan dalam konteks ini budaya yang multikultural digunakan sebagai landasan dalam mengembangkan visi, misi, tujuan, dan berbagai komponen perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian, pengertian lain mengenai pendekatan multikultural harus dirumuskan agar dapat digunakan dalam pengembangan pembelajaran.

Untuk itu, maka definisi pendekatan multikultural tersebut haruslah membantu para pengembang dalam mengembangkan prinsip-prinsip perencanaan dan pelaksanaan, dan dapat memaksimalkan potensi siswa dan lingkungan budayanya sehingga siswa dapat belajar dengan lebih baik.

Artinya, pengertian pendekatan multikultural harus dapat mengakomodasi perbedaan kultural peserta didik, memanfaatkan kebudayaan itu bukan saja sebagai sumber konten, melainkan juga sebagai titik berangkat untuk pengembangan kebudayaan itu sendiri, pemahaman terhadap kebudayaan orang lain, toleransi, membangkitkan semangat kebangsaan siswa yang berdasarkan bhinneka tunggal ika, mengembangkan perilaku yang etis, dan yang juga tak kalah pentingnya adalah dapat memanfaatkan kebudayaan pribadi siswa sebagai bagian dari entry-behavior siswa sehingga dapat menciptakan "kesempatan yang sama bagi siswa untuk berprestasi" (Boyd, 1989: 49-50).

Artinya, pengertian pendekatan multikultural dalam pembelajaran haruslah menggabungkan pengertian Pendidikan Multikultural sebagai landasan pengembangan, di samping sebagai ruang lingkup materi yang harus dipelajari. Hal ini disebut belajar dengan budaya.

Atas dasar posisi multikultural sebagai pendekatan dalam pengembangan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran maka pendekatan multikultural pembelajaran diartikan sebagai suatu prinsip yang menggunakan keragaman kebudayaan peserta didik dalam mengembangkan filosofi, misi, tujuan, dan komponen perencanaan dan pelaksanaan, serta lingkungan belajar sehingga siswa dapat menggunakan kebudayaan pribadinya untuk memahami dan mengembangkan berbagai wawasan, konsep, keterampilan, nilai, sikap, dan moral yang diharapkan.
Bagikan Post:

Jangan Lupa Follow Total-Edukasi untuk Mendapatkan Informasi Terbaru!

0 Response to "Pendidikan Multikultural Sebagai Landasan Pembelajaran di Sekolah"

Post a Comment

Mohon berkomentar dengan bijak dan sopan. Jangan gunakan kata-kata kasar, caci maki, bullying, hate speech, dan hal-hal lain yang dapat membuat orang lain tersinggung.