Apa yang Dimaksud dengan Belajar? Berikut Definisi Belajar Menurut Para Ahli!

definisi-belajar-menurut-para-ahli
total-edukasi.blogspot.com
Apa yang dimaksud dengan belajar? Belajar adalah suatu proses yang terus menerus, agar terjadi perubahan perilaku. Proses ini bersifat aktif dan diharapkan menjadi bekal yang permanen. Respon dari belajar merupakan alat untuk mengukur kemampuan keberhasilan seseorang.

Setiap siswa dapat belajar melalui penglihatan, pengalaman, dan proses berpikir, agar mampu mengubah perilaku. Sebagai contoh, Anti siswa kelas satu SD berusia 6 tahun 3 bulan, pulang sekolah dengan mata merah. Setiba di rumah Anti langsung memeluk ibunya. Ibunya terkejut dan membalas pelukan Anti. Ibu bertanya ada apa dengan Anti di sekolah? Anti bercerita ia malu diperolokkan teman-teman sekelas, karena tidak dapat mengerjakan soal matematika. Anti merasa malu karena kakaknya Anto sangat pandai Matematika. Anti menjadi sangat sensitif. Ia mengeluh pada ibunya bahwa ia takut pergi kesekolah.

Apa yang harus dilakukan ibu untuk memotivasi Anti mau belajar matematika? Untuk membantu permasalahan yang dihadapi ibu Anti tersebut, marilah kita mengkaji penjelasan definisi belajar menurut para ahli berikut ini.

1. Menurut Edward Walter

Belajar adalah perubahan atau tingkah laku akibat pengalaman dan latihan. Contoh. Anti kesulitan dan ketakutan belajar matematika, padahal kakaknya Anto pandai belajar matematika. Menurut Edward Walter belajar matematika memerlukan latihan–latihan yang berulang kali. Latihan-latihan yang intensif bagi siswa SD akan lebih mudah mempelajari simbol-simbol matematika. Ungkapan guru SD harus memupuk anak agar mau melatih diri belajar matematika, bukan mengkritik anak dengan komentar negatif. Anak menjadi cemas, bahkan ketakutan belajar matematika.

2. Clifford T. Morgan

Menurut Morgan, belajar merupakan perubahan tingkah laku karena hasil pengalaman, sehingga memungkinkan seseorang menghadapi situasi selanjudnya dengan cara yang berbeda-beda. Contoh, apabila Anti ketakutan belajar matematika, maka ia akan menganggap bahwa mata pelajaran matematika sangat sulit. Namun bila Anti belajar matematika dalam situasi yang menyenangkan (kegiatan berupa Games) Anti akan belajar matematika dengan menyenangkan pula. Belajar sambil bermain akan merubah perilaku seperti yang dialami Anti. Pengalaman mempelajari matematika dengan kegiatan games akan menumbuhkan motivasi belajar.

3. Woodword

Pakar ini mengemukakan bahwa belajar merupakan perubahan yang relatif permanen, akibat interaksi lingkungan. Contoh, bila Anti belajar di sekolah dan di rumah dengan berbagai macam media, maka ketakutan Anti untuk belajar matematika akan berkurang. Para guru di sekalah dasar bersama keluarga hendaknya memberi sugesti positif, agar siswa SD berbesar hati membangun keparcayaan diri pada saat mempelajari simbol-simbol matematika.

4. Crow & Crow

Menurut Crow & Crow, belajar adalah suatu perubahan dalam diri individu karena kebiasaan, pengetahuan dan sikap. Contoh, pada umumnya anak usia SD yang tinggal di Jakarta, pola belajarnya akan berkembang sesuai dengan kemampuan teknologi Computer Kid yang digunakan. Penggunaan media tersebut dapat berdampak positif untuk memperluas wawasan, pengetahuan, dan sikap perilaku anak SD. Teknologi modern memperkaya anak sehingga banyak mengalami perubahan dalam proses belajar.

5. Menurut Pakar-pakar Lain

Menurut pakar-pakar yang lain, belajar merupakan proses memiliki pengetahuan, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Selain itu, belajar merupakan perubahan secara fisik maupun motorik. Belajar juga merupakan perubahan yang menekannkan aspek-aspek rohani. Contoh, bilamana Anti belajar menari berarti ia memiliki pengetahuan tentang gerak gerik menari, dan secara motorik Anti belajar menari dengan lemah gemulai. Pada saat Anti menari di pentas, Anti merasakan kesenangan batiniah (aspek rohaniah). Bila pentas tari di sekolah mendapatkan penghargaan, maka hal itu akan memincu Anti belajar lebih giat.

Di dalam belajar, terdapat tiga ranah yang satu sama lain sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan tegas. Ketiganya ialah: (1) ranah kognitif (cognitive domain), (2) ranah afektif (affective domain), serta (3) ranah psikomotor (psychomotor domain) yang berhubungan dengan motorik kasar seperti melempar, menangkap, dan menendang, juga motorik halus seperti menulis dan menggambar.

Mari kita cermati contoh ketiga ranah belajar tersebut. Joko anak usia 9 tahun dan duduk di kelas 3 SD. Ia pergi ke mall didekat rumahnya dengan menggunakan sepeda. Kemampuan Joko dalam mengendarai sepeda terdiri dari: (1) pengetahuan tentang cara-cara naik sepeda (ranah kognitif), (2) keberanian naik sepeda (ranah afeksi), dan mampu mengemudikan sepeda untuk berbelok ke kiri maupun ke kanan secara tepat (ranah psikomotor).

Guru–guru SD perlu melatih ketiga ranah belajar tersebut selama proses belajar mengajar di SD berlangsung dengan memperhatikan prinsip-prinsip belajar. Apa yang dimaksud dengan prinsip-prinsip belajar? Prinsip-prinsip belajar adalah:
  1. tujuan yang terarah;
  2. motivasi yang kuat;
  3. bimbingan untuk mengetahui hambatan dan bimbingan;
  4. cara belajar dengan pemahaman;
  5. interaksi yang positif dan dinamis antara individu dan lingkungan;
  6. teknik-teknik belajar;
  7. diskusi dan pemecahan masalah; serta
  8. mampu menerapkan apa yang telah dipelajari dalam kegiatan sehari-hari.
Anak SD pergi ke sekolah bukan karena terpaksa, melainkan karena suatu kebutuhan. Oleh karena itu, orang tua dan guru hendaknya tidak memaksa anak agar belajar di SD, melainkan mengarahkan anak bahwa belajar adalah suatu kebutuhan, serta membangun motivasi diri yang kuat bahwa dengan belajar di SD berarti mempersiapkan hidup untuk masa depan. Apabila anak mengalami hambatan dan rintangan anak akan memperoleh bimbingan dari guru, sehingga apa yang dipelajari dapat dipahami dengan mudah. Hubungan yang positif dan dinamis antara guru dan orang tua memungkinkan anak untuk belajar secara aktif.

Proses belajar memerlukan teknik-teknik yang bervariasi. Latihan dan ulangan dapat memperkaya anak untuk belajar. Dengan metode diskusi dan pemecahan masalah siswa SD belajar berani mengemukakan pendapat. Keberhasilan anak SD dalam belajar mempermudah anak untuk mempelajari berbagai kehidupan sehari-hari di masyarakat. Anak SD yang mengalami kesalahan dalam belajar disebabkan karena:
  1. belajar tanpa adanya tujuan yang jelas;
  2. belajar tanpa rencana, hanya insidental (misalnya kalau ada ujian atau ulangan saja);
  3. hanya menghafal tanpa memahami;
  4. tidak dikaitkan dengan pengalaman;
  5. tidak dikaitkan dengan teknik-teknik yang bervariasi;
  6. tidak dikaitkan dengan pengelolaan waktu belajar; serta
  7. tidak menggunakan alat bantu, atau referensi yang utuh (buku-buku / internet).
Dari beberapa definisi yang dijelaskan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa Menurut Edward Wolter, Clifford Morgan, Cro &Crow dan pakar lainya, belajar adalah perubahan tingkah laku akibat interaksi lingkungan. Latihan-latihan yang intensif menumbuhkan terjadinya perubahan dalam pengetahuan, kebiasaan, dan sikap. Di dalam belajar terdapat tiga ranah yang saling berkaitan, yaitu cognitive domain, affective domain, dan psychomotor domain.

Jangan Lupa Follow Total-Edukasi untuk Mendapatkan Informasi Terbaru!

0 Response to "Apa yang Dimaksud dengan Belajar? Berikut Definisi Belajar Menurut Para Ahli!"

Post a Comment

Mohon berkomentar dengan bijak dan sopan. Jangan gunakan kata-kata kasar, caci maki, bullying, hate speech, dan hal-hal lain yang dapat membuat orang lain tersinggung.