4 Jenis Teknik Nontes yang Sering Digunakan Guru dalam Pengumpulan Data Peserta Didik

4-jenis-teknik-nontes
total-edukasi.blogspot.com
Teknik nontes merupakan teknik pengumpulan data yang tidak baku dan hasil rekayasa dari guru dan sekolah. Adapun kegunaan teknik nontes ialah untuk mengumpulkan data yang tidak dapat dikumpulkan dengan teknik tes, seperti kebiasaan belajar siswa baik di sekolah maupun di rumah, keterangan orangtua dan lingkungannya mengenai diri siswa, dan lainnya. 4 jenis teknik nontes yang sering digunakan guru ataupun pihak sekolah dalam pengumpulan data peserta didik tersebut, meliputi: observasi, angket, wawancara, dan sosiometri.

Observasi

Observasi atau pengamatan, merupakan teknik untuk merekam data atau keterangan atau informasi tentang diri seseorang yang dilakukan secara langsung atau tidak langsung terhadap kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung, sehingga diperoleh data tingkah laku seseorang yang menampak (behavior observable), apa yang dikatakan, dan apa yang diperbuatnya. Gulo (2005) mengatakan bahwa pengamatan (observasi) adalah metode pengumpulan data di mana peneliti atau kolaboratornya mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama pengamatan.

Pada intinya pengamatan terhadap peristiwa-peristiwa dilakukan dengan melihat, mendengarkan, merasakan, dan kemudian mencatat. Menurut cara dan tujuannya, observasi dapat dibedakan menjadi tiga macam.
  1. Observasi partisipatif, yaitu observasi yang dilakukan oleh observer (pengamat) dengan turut mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objek yang diobservasi (observee).
  2. Observasi sistematis, yaitu observasi yang direncanakan terlebih dahulu aspek-aspek yang akan diobservasi sesuai dengan tujuan, waktu, dan alat yang dipakai.
  3. Observasi eksperimental, yaitu observasi yang dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan atau gejala-gejala sebagai akibat dari situasi yang sengaja diadakan.
Persoalan-persoalan yang perlu diperhatikan pada pengamatan, terutama karena metode ini sangat mengandalkan “penglihatan” (mata) dan “pendengaran” (telinga). Dari kedua alat indera itu, mata punya peranan yang lebih dominan. Oleh karena itu, perlu disadari keterbatasan dari alat penglihatan ini:
  1. Harus dipercaya bahwa alat penglihatannya baik dan dapat menangkap fakta dengan benar;
  2. Penglihatan orang mempunyai kelemahan dan keterbatasan, misalnya tidak mampu melihat jarak yang jauh, atau terjadi bias penglihatan;
  3. Berusaha mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut.
Agar data yang dikumpulkan melalui observasi ini dapat dicatat dengan sebaik-baiknya, maka diperlukan pedoman observasi. Bentuk-bentuk pedoman observasi antara lain: (1) daftar cek (checklist); (2) skala penilaian (rating scale); (3) catatan anekdot (anecdotal records); (4) alat-alat mekanik (mechanical devices).

Daftar cek adalah suatu daftar pernyataan yang memuat aspek-aspek yang mungkin terdapat dalam suatu situasi, tingkah laku, atau kegiatan individu yang sedang diamati. Semua aspek yang akan diobservasi dijabarkan dalam suatu daftar sehingga pada waktu observasi, observer (pengamat) tinggal membubuhkan tanda cek terhadap ada atau tidak adanya aspek-aspek yang menjadi pusat perhatian bagi diri individu atau kejadian yang diobservasi. Daftar cek ini dapat digunakan untuk mengobservasi individu atau kelompok individu.

Gejala-gejala perilaku atau tingkah laku seseorang yang dapat diobservasi dengan teknik ini antara lain: kebiasaan belajar, aktivitas belajar dan bekerja, kepemimpinan dan kerjasama, pergaulan, dan topik lain yang relevan dengan kegiatan akademik dan nonakademik dalam kehidupan sekolah.

Skala penilaian sangat erat hubungannya dengan daftar cek. Jika daftar cek untuk memberikan cek ada atau tidaknya gejala atau sifat yang diobservasi, maka pada skala penilaian didapatkan adanya tingkatan-tingkatan. Dengan kata lain, skala penilaian merupakan alat pengumpul data yang dipergunakan dalam observasi untuk menjelaskan, menggolongkan, dan menilai individu atau situasi. 

Dalam skala penilaian, aspek yang diobservasi dijabarkan dalam bentuk skala. Skala penilaian pada umumnya terdiri dari suatu daftar yang berisi ciri-ciri tingkah laku atau sifat yang harus dicatat secara bertingkat sehingga observer hanya memberikan tAnda cek pada tingkat mana gejala atau ciri-ciri tingkah laku itu muncul. Berdasarkan pada alternatif skala yang dipakai untuk menilai dan menggolongkan gejala perilaku individu atau situasi, maka skala penilaian dapat dibedakan menjadi tiga bentuk: kuantitatif, deskriptif, dan grafis.

Skala penilaian deskriptif adalah suatu alat observasi yang digunakan untuk mengamati gejala atau ciri-ciri tingkah laku individu atau situasi dalam mana alternatif skalanya dijabarkan dalam bentuk kata-kata. Skala penilaian grafis adalah suatu alat observasi yang digunakan untuk mengamati gejala atau ciri-ciri tingkah laku individu atau situasi di mana alternatif skalanya dijabarkan dalam bentuk grafis (garis).

Catatan anekdot biasa juga dikenal dengan catatan berkala. Dalam catatan berkala, observer tidak mencatat kejadian-kejadian yang luar biasa, melainkan mencatat kejadian pada waktu-waktu yang tertentu. Apa yang dilakukan oleh observer adalah mengadakan observasi atas cara anak bertindak dalam jangka waktu yang tertentu dan kemudian observer memberikan kesan umum yang ditangkapnya.

Setelah itu, observer menghentikan observasi untuk kemudian melakukan observasi dengan cara yang sama pada waktu lain seperti waktu-waktu sebelumnya. Catatan berkala dilakukan terhadap peristiwa yang dianggap penting dalam suatu situasi yang melukiskan perilaku dan kepribadian seseorang dalam bentuk pernyataan singkat dan objektif.

Dengan adanya kemajuan di bidang teknik maka observer dapat menggunakan alat-alat yang lebih baik di dalam melakukan observasi, misalnya dengan foto-foto/slide, tape recorder, dan sebagainya.

Angket

Teknik pengumpul data ini dapat juga dipandang sebagai “wawancara tertulis”, dengan beberapa perbedaan. Pada angket, yang disebut juga kuesioner (questionnaire), responden dihubungi melalui daftar pertanyaan tertulis. Teknik ini praktis dipakai untuk menjaring informasi atau keterangan bagi sejumlah besar responden dalam waktu yang singkat.

Angket bersifat kooperatif. Maksudnya, responden diharapkan bekerja sama untuk menyisihkan waktu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tertulis, sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang diberikan. Karena itulah, perlu diusahakan adanya motivasi yang kuat. Motivasi ini harus dapat mengarahkan perhatian, menimbulkan simpati, keinginan bekerja sama (membantu), dan kesadaran akan pentingnya jawaban yang jujur. Angket dapat mengungkap gejala-gejala yang tidak dapat diperoleh dengan jalan observasi, misalnya seperti: harapan, pendapat, prasangka, sikap dan sebagainya.

Sebagai teknik pengumpul data, angket dibedakan berdasarkan: (1) subyek atau responden, meliputi: angket langsung dan tidak langsung; (2) menurut jenis pertanyaan, meliputi: pertanyaan terbuka, tertutup, fakta, dan pendapat. Dapat pula dibedakan menurut bentuk isiannya, meliputi: bentuk isian terbuka, isian singkat, jawaban tabuler, berskala, berderajat, cek, kategorikal, pilihan benar-salah, dan jawaban ganda. Adapun sasaran pengumpulan data dengan teknik ini adalah siswa sebagai sumber data langsung dan orang lain yang memberikan keterangan mengenai siswa, sebagai sumber data tidak langsung.

Angket atau kuesioner adalah serangkaian pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diajukan kepada responden untuk memperoleh jawaban secara tertulis pula. Pertanyaan/pernyataan dalam angket tergantung pada maksud serta tujuan yang ingin dicapai. Maksud dan tujuan tersebut berpengaruh terhadap bentuk pertanyaan yang ada dalam angket itu.

Pada umumnya di dalam angket itu kita dapati dua bagian pokok, yaitu:
  1. Bagian yang mengandung data identitas, dan
  2. Bagian yang mengandung pertanyaan-pertanyaan yang ingin diperoleh jawabannya.
Bagian yang mengandung data identitas merupakan bagian yang mengandung data tentang keadaan diri orang atau anak yang diberi angket tersebut, misalnya nama, tanggal lahir, jenis kelamin, bangsa, agama, dsb. Bagian yang mengandung pertanyaan fakta atau opini ialah bagian yang mengandunng pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan fakta atau opini.

Serangkaian pertanyaan yang diajukan kepada responden melalui angket dapat berupa: pertanyaan fakta, mencakup: umur, pendidikan, agama, alamat, nama, kelas; pertanyaan tentang pendapat dan sikap, mencakup perasaan dan sikap responden tentang sesuatu; pertanyaan tentang informasi, mencakup apa yang diketahui oleh responden dan sejauh mana hal tersebut diketahuinya; dan pertanyaan tentang persepsi diri, mencakup penilaian responden terhadap perilakunya sendiri dalam hubungannya dengan orang lain. Untuk keperluan di sekolah, angket disiapkan untuk membantu para guru agar dapat memahami siswa lebih mendalam.

Wawancara

Wawancara merupakan salah satu metode untuk mendapatkan data tentang individu dengan mengadakan hubungan secara langsung dengan informan (face to face relation). Komunikasi berlangsung dalam bentuk tanya jawab dalam hubungan tatap muka. Ini merupakan keunggulan teknik wawancara karena gerak dan mimik responden merupakan pola media yang dapat melengkapi kata-kata verbal mereka. Wawancara tidak hanya dapat menangkap pemahaman atau ide, tetapi juga dapat menangkap perasaan, pengalaman, emosi, dan motif, yang dimiliki oleh responden. Teknik ini sangat fleksibel dalam mengajukan pertanyaan yang lebih rinci, dan memungkinkan siswa untuk mengatakan dengan jelas tentang kegiatan, minat, cita-cita, harapan-harapan, kebiasaan-kebiasaan, dan lain-lain mengenai dirinya.

Wawancara dapat dibedakan berdasarkan tujuannya, antara lain wawancara untuk membantu siswa mengatasi masalahnya sendiri dan wawancara untuk mendapatkan informasi atau keterangan. Bilamana guru atau petugas bimbingan/konselor akan menyelenggarakan wawancara untuk mengumpulkan informasi tentang diri siswa, maka perlu disiapkan secara seksama sebelum dimulai, seperti: rumusan pertanyaan yang akan diajukan; penciptaan suasana yang wajar tetapi terjamin obyektivitasnya.

Wawancara merupakan proses interaksi dan komunikasi yang bersifat profesional dan bukan merupakan percakapan sehari-hari yang lazim kita pakai. Wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data dengan tanya-jawab secara lisan baik langsung maupun tidak langsung yang terarah pada tujuan tertentu.

Wawancara bersifat langsung, apabila data yang dikumpulkan langsung diperoleh dari individu yang bersangkutan, misalnya wawancara dengan diri siswa. Wawancara yang bersifat tidak lansung, apabila wawancara yang dilakukan dengan seseorang untuk memperoleh keterangan mengenai orang lain, misalnya wawancara dengan orangtua siswa. Sifat wawancara yang lain adalah insidentil, ialah bilamana dilakukan sewaktu-waktu jika dianggap perlu. Bersifat berencana, apabila dilaksanakan pada waktu-waktu yang telah ditetapkan.

Menurut jumlah orang yang diwawancarai, maka wawancara dapat dibedakan: (1) wawancara perorangan (individual) dan (2) wawancara kelompok. Menurut peran yang dimainkan, maka wawancara dapat dibedakan menjadi: (1) the non-directive interview, yaitu wawancara yang digunakan dalam proses konseling; (2) the focused interview, yaitu wawancara yang ditujukan kepada orang-orang tertentu yang mempunyai hubungan dengan objek-objek yang diselidiki; dan (3) the repeated interview, yaitu wawancara yang berulang. Wawancara ini terutama digunakan untuk mencoba mengikuti perkembangan tertentu terutama proses sosial.

Berdasarkan subyek atau responden dan tujuannya, wawancara dapat dibedakan menjadi: (1) wawancara jabatan (the employment interview) ialah wawancara yang ditujukan untuk mencocokan seorang calon pegawai dengan pekerjaannya yang tepat. Wawancara ini ditujukan untuk mendapatkan gambaran sampai dimana sifat-sifat yang dipunyai oleh seseorang terhadap kriteria yang diminta oleh suatu employment; (2) wawancara disipliner atau wawancara administratif (administrative interview) ialah wawancara yang ditujukan untuk ”menuntut” perubahan tingkah laku individu ke arah kegiatan yang diinginkan oleh pewawancara. Wawancara ini dijalankan untuk keperluan administrasi, misalnya untuk kesejahteraan organisasi, untuk mendapatkan perubahan-perubahan didalam tindakannya (changes in behaviour); (3) wawancara konseling (counseling interview) ialah wawancara yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi atau memecahkan masalahnya dengan kata lain wawancara ini ini dijalankan untuk keperluan konseling; dan (4) wawancara fact-finding.

Dari antara keempat jenis wawancara tersebut hanya wawancara formatif atau fact finding, yang akan dibahas pada bagian ini. Sifat pengumpulan data ini adalah profesional selayaknya di dalam penyelenggaraan memerlukan petugas yang profesional berpengalaman luas di bidang bimbingan, penuh simpati, dan diplomatis. Di dalam melaksanakan wawancara perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu: pewawancara, siswa (responden), pedoman wawancara, dan situasi wawancara.

Selama proses wawancara, pewawancara diharapkan dapat menciptakan suasana yang bebas, terbuka, dan menyenangkan sehingga mampu merangsang siswa untuk menjawabnya, menggali jawaban lebih jauh dan mencatatnya. Oleh karena itu persyaratan seorang pewawancara ialah keterampilan mewawancarai, motivasi yang tinggi dan rasa aman. Keberhasilan pengumpulan data dengan teknik ini bergantung pula pada peranan pewawancara, yaitu: (1) mampu menciptakan hubungan baik dengan responden (siswa) atau mengadakan rapport ialah situasi psikologis yang menunjukkan bahwa responden bersedia bekerjasama, bersedia menjawab pertanyaan dan memberi informasi sesuai dengan pikirannya dan keadaan yang sebenarnya; (2) mampu menyampaikan semua pertanyaan dengan baik dan tepat; (3) mampu mencatat semua jawaban lisan responden dengan teliti dan jelas; (4) mampu menggali tambahan informasi dengan menyampaikan pertanyaan yang tepat dan netral digunakan teknik probing. Responden, dalam hal ini adalah siswa turut mempengaruhi proses wawancara, utamanya kemampuan menangkap pertanyaan, dan kemampuan menjawab pertanyaan.

Pedoman wawancara hendaknya tersusun pertanyaan-pertanyaan pokok yang akan diajukan dan tersedia tempat untuk mencatat jawabannya, sehingga dapat dipahami dan dapat dijawab dengan baik oleh siswa/ responden. Pada dasarnya situasi wawancara perlu juga diperhatikan selama proses wawancara, seperti: waktu, tempat, ada tidaknya pihak ketiga.

Sosiometri

Teknik sosiometri banyak dipakai dalam bidang psikologi, sosiologi, dan ilmu pendidikan yang pada umumnya bertujuan meneliti hubungan sosio-psikologik yang terdapat antara individu yang satu dengan individu yang lain dalam satu kelompok sosial. Dengan kata lain, teknik sosiometri banyak digunakan untuk pengumpulan data tentang dinamika suatu kelompok sosial. Kelompok sosial ini misalnya ialah kelas sekolah, regu kerja, pegawai kantor, karyawan organisasi produksi, kesatuan tentara, dan lain-lain.

Tentunya terdapat perbedaan-perbedaan dalam pelaksanaannya, tetapi secara garis besar dapat dikatakan bahwa teknik ini terdiri dari pertanyaan khusus yang dikemukakan pada setiap anggota kelompok sosial untuk mengetahui selera pilihan anggota kelompok itu terhadap anggota lainnya dalam satu situasi tertentu. Pertanyaan tersebut akan menghasilkan satu matriks tentang situasi hubungan sosial antar individu dalam kelompok, struktur sosial, dan arah hubungan sosialnya. Dari data sosiometri ini dapat diketahui tingkat pergaulan antarindividu dalam kelompok dan popularitas seseorang dalam kelompoknya.

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, sosiometri merupakan alat yang digunakan untuk meneliti struktur sosial sekelompok individu dengan dasar penelaahan terhadap relasi sosial, status sosial dari masing-masing anggota kelompok yang bersangkutan. Sosiometri dapat juga dikatakan sebagai alat yang dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang dinamika kelompok dan juga dipergunakan untuk mengetahui popularitas seseorang dalam kelompoknya serta untuk meneliti kesulitan hubungan seseorang terhadap teman-temannya dalam kelompok, baik dalam kegiatan belajar, bermain, bekerja, dan kegiatan-kegiatan kelompok lainnya.

Kegunaan lebih lanjut dari teknik sosiometri ini adalah untuk:
  1. memperbaiki hubungan insani (human relationship);
  2. menentukan kelompok kerja tertentu;
  3. meneliti kemampuan memimpin seseorang dalam kelompok pada suatu kegiatan tertentu;
  4. mengatur tempat duduk dalam kelas; serta
  5. mengetahui kekompakan dan perpecahan anggota kelompok.
Metode ini biasanya digunakan pada kelompok-kelompok kecil (misalnya 10 sampai 100 orang). Apabila terlalu banyak jumlahnya, penentuan hubungan sosial antarindividu akan menjadi kabur dan akan mengalami kesulitan.

Itulah 4 jenis teknik nontes yang sering digunakan guru dalam pengumpulan data peserta didik. Meskipun pada prinsipnya teknik-teknik ini dapat diterapkan pada aspek lain selain ruang lingkup dunia pendidikan.

4 jenis teknik nontes ini juga bisa diterapkan di luar sekolah. Prosedur dan aturannya tetap sama, yang berbeda hanya pada audiennya saja. Jika di sekolah adalah peserta didik sebagai objeknya, sedangkan di luar sekolah adalah masyarakat luas. Teknik nontes di atas dapat diterapkan di aspek-aspek lain dengan menyesuaikan objek di lapangan.

Jangan Lupa Follow Total-Edukasi untuk Mendapatkan Informasi Terbaru!

0 Response to "4 Jenis Teknik Nontes yang Sering Digunakan Guru dalam Pengumpulan Data Peserta Didik"

Post a Comment

Mohon berkomentar dengan bijak dan sopan. Jangan gunakan kata-kata kasar, caci maki, bullying, hate speech, dan hal-hal lain yang dapat membuat orang lain tersinggung.