Kelompok Ini Disebut 'Bidang Empat' Ilmu Pengetahuan Oleh Para Ahli

bidang-empat-ilmu-pengetahuan
total-edukasi.blogspot.com
Dewasa ini, ilmu pengetahuan telah berkembang sangat pesat. Cabang baru muncul hampir di setiap waktu. Orang menjadi sangat spesialis. Karena itu, sering kita menjadi kehilangan arah karena kita tidak mengetahui posisi yang sesungguhnya.

Leo Sutrisno (2000) membagi ilmu pengetahuan menjadi empat kelompok. Kelompok-kelompok ini disebut Bidang Empat ilmu pengetahuan. Pertama, kelompok ilmu pengetahuan yang memiliki pertanyaan mendasar: “Mengapa sesuatu itu terjadi?” Kelompok ini digabungkan dengan nama MIPA. Kedua, kelompok ilmu pengetahuan yang selalu menanyakan bagaimana cara menggunakan sesuatu itu untuk membuat hidup manusia lebih nyaman. Kelompok ini digabungkan dalam naungan kata Teknologi. Kelompok ilmu pengetahuan yang ketiga mengajukan pertanyaan bagaimana sebaiknya agar hidup manusia ini selaras dengan lingkungannya. Kelompok ini dinaungi dalam Ilmu sosial-budaya. Dan, keempat, kelompok ilmu pengetahuan yang tidak hanya mempelajari masalah di dunia saja tetapi juga ke ‘kehidupan di seberang sana’. Ilmu pengetahuan yang ada di kelompok ini mengajukan pertanyaan: Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan agar hidup sekarang ini dan yang akan dating tetap baik? Kelompok ini bergabung dalam kelompok filsafat-teologi.

Kelompok MIPA

Ilmu pengetahuan yang tergabung dalam naungan nama MIPA mengembangkan pengetahuannya untuk menjawab pertanyaan: “Mengapa fenomena itu terjadi?” Jika fenomena itu berkaitan dengan kehidupan maka yang menjawab pertanyaan itu adalah biologi. Bila fenomena itu terkait dengan struktur materi dan interaksinya maka yang menjawab adalah fisika. Jika fenomena itu terkait dengan struktur atom dan molekul dan interaksinya dengan yang lain akan dijawab oleh ilmu kimia. Jika fenomena itu terkait dengan perut bumi maka yang menjawab adalah ilmu bumi. Dan, jika fenomena itu terkait dengan peristiwa jagad raya maka dijawab oleh astronomi.

Sekali lagi, pertanyaan utama bidang IPA adalah ‘Mengapa itu terjadi?’ Misalnya: Mengapa terjadi tsunami? Mengapa terjadi gempa? Mengapa terjadi banjir? Mengapa terjadi kebakaran? Mengapa pesawat terbang dapat jatuh? Mengapa terjadi kapal tenggelam? Mengapa Lumpur panas dapat keluar dari perut bumi? Mengapa gunung Merapi meletus? dan sebagainya. Jawaban untuk pertanyaan semacam ini berupa penjelasan. Biasanya, penjelasan itu berbentuk sebab-akibat, karena ini maka begitu. Penjelasan semacam ini sesungguhnya tidak merugikan siapa pun. Dikatakan MIPA bebas nilai. Penjelasan-penjelasan MIPA tidak terkait dengan norma atau tata nilai masyarkat tertentu.

Kelompok Teknologi

Anda pasti tahu arti kata teknologi? Teknologi menjawab pertanyaan: “Bagaimana cara memperngunakan fenomena seperti itu untuk membuat hidup menusia lebih nyaman?” Ada banyak banyak definisi dan penjelasan tentang teknologi. Misalnya, teknologi adalah pengembangan dan penerapan dari alat, mesin, proses, material yang mempermudah hidup manusia. Cabang-cabang teknologi yang sering kita dengar di antarnya adalah: Nanoteknologi, teknologi telekomunikasi, teknologi informasi, teknologi pancapanen, teknologi nuklir.

Dalam pembicaraan lain, orang sering membedakan teknologi dengan teknik. Dikatakan bahwa teknik adalah penerapan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Hal ini diselesaikan lewat pengetahuan, matematika, pengalaman praktis yang diterapkan untuk mendesain objek, atau proses yang berguna. Para praktisi teknik profesional disebut Sarjana Teknik yang diperoleh pada Fakultas teknik. Cabang-cabangnya yang sering kita dengar adalah: teknik elektro, teknik industri, teknik pertambangan dan sebagainya.

Kata teknologi sering menggambarkan penemuan dan alat yang menggunakan prinsip dan proses ilmiah yang baru ditemukan. Sering juga teknologi dilihat bagaimana menggabungkan sumber daya untuk memproduksi produk yang diinginkan. Karena teknologi dikaitkan dengan sumber daya produksi, maka teknologi mempunyai potensi merusak. Ambil contoh, dengan motor yang bagus Anda dapat melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Anda menjadi lebih nyaman, paling tidak lebih cepat sampai ke tujuan. Namun, apa yang akan terjadi apabila, tentunya murni kecelakaan, Anda menabrak orang lain? Selain memiliki potensi merusak, teknologi juga memiliki potensi kekuasaan. Ambil contoh, teknologi senjata. Negara-negara yang memiliki teknologi persenjataan canggih mempunyai kesempatan untuk ‘menguasai’ negara-negara lain. Anda, saat ini, memiliki komputer notebook (laptop) akan ‘tampak’ tampil lebih beda daripada yang lain. Karena itu, setiap menggunakan teknologi sebaiknya juga mempertimbangkan kedua potensi tersebut agar sungguh teknologi yang kita pakai membuat kita lebih nyaman bersama-sama dengan yang lain.

Kelompok Ilmu pengetahuan sosial-budaya

Apa yang dipelajari kelompok ilmu sosial budaya? Tengoklah, misalnya Antropologi dikatakan sebagai studi tentang manusia dan perilakunya serta menyusun pengertian yang lengkap tentang keanekaragamannya. Demikian juga dalam sosiologi, kita mempelajari tentang sifat, perilaku dan perkembangan masyarakat.

Selanjutnya, kelompok seni budaya dipAndang sebagai proses dan intisari ekspresi dari kreativitas manusia. Masing-masing individu seniman memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntun kerja, proses, dan produknya. Sekali pun demikian, sekolah seni juga tiada kekurangan siswa. Mengapa?! Karena, mereka belajar dari pengalaman seniman masa lalu dan beberapa garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan tertentu lewat simbolisme dan bentuk. (seperti bunga bakung yang bermakna kematian dan bunga mawar merah yang bermakna cinta).

Dengan demikian, keteraturan, keindahan, keselarasan, keharmonisan, tetap menjadi sesuatu yang khas dalam ilmu sosial budaya. Pertanyaan mendasar yang coba dijawab oleh para pendukung ilmu sosial budaya adalah: “Bagaimana cara menggunakan produk teknologi itu agar tetap selaras dengan sekitarnya?” Jawaban dari pertanyaan ini adalah etika dan estetika. Orang mendapatkan pedoman untuk berlaku yang sebaik-baiknya sehingga tidak mengganggu keselarasan dan keindahan. Dengan begitu, potensi merusak dan kekuasaan dari teknologi diharapakan dapat diperkecil. Kita, akan menggunakan produk-produk teknologi hanya yang masih selaras dengan sekitar, produk teknologi yang tidak merusak alam sekitar.

Kelompok Filsafat-Teologi

Hary Hamersma (2000) menyatakan bahwa pertanyaan tentang asal dan tujuan, tentang hidup dan kematian, tentang hakikat manusia, tidak terjawab oleh ilmu pengetahuan. Pertanyaan-pertanyaan ini juga mungkin tidak pernah terjawab oleh filsafat. Tetapi filsafat mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, dan mencoba menjawabnya, menerangkannya. Kata filsafat berarti ‘cinta akan hikmat’, ‘cintan akan pengetahuan’. Seorang fisuf adalah orang ‘pencari hikmat atau pengetahuan’. Teologi adalah menelaah, berdasarkan nalar, mengenai hidup setelah mati, hidup 'di seberang sana’. Dengan demikian, teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan agama. Teologi meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan.

Pertanyaan mendasar yang dikembangkan dalam kelompok filsafat dan teologi adalah: “Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan agar selalu benar?”. Semuanya diukur atas dasar kebenaran. Hanya yang benar yang boleh dilakukan. Sekalipun Anda dengan pengetahuan MIPA dapat menjelaskan mengapa itu terjadi, dengan pengetahuan teknologi dapat menerangkan bagaimana menggunakannya untuk membuat hidup manusia lebih nyaman, dengan ilmu sosial-budaya dapat menetapkan yang etis dan yang tidak, sehingga tidak merusak lingkungan sekitar, pertanyaan terakhir sebelum bertindak harus dipikirkan, yaitu apakah ini boleh atau tidak, apakah ini benar atau salah.

Jadi, sekali pun Anda dalam IPA bebas mempelajari segala sesuatu, ketika akan menggunakannya perlu dipikirkan hal-hal lain yang juga mendasar. Pertama, apakah cukup merusak atau tidak. Kedua, apakah melanggar etika estetika atau tidak, Ketiga, apakah ini benar dan boleh dilakukan atau tidak. Jika, tidak cukup periksa, jika tidak melanggar etika dan estetika dan jika itu benar dan boleh maka lakukanlah. Tetapi, kalau ketiga petanyaan itu ada jawaban yang negatif maka lupakan saja rencana Anda. Karena, mungkin akan merusak, mungkin melanggar etika estetika, mungkin melanggar moral.
Bagikan Post:

Jangan Lupa Follow Total-Edukasi untuk Mendapatkan Informasi Terbaru!

0 Response to "Kelompok Ini Disebut 'Bidang Empat' Ilmu Pengetahuan Oleh Para Ahli"

Post a Comment

Mohon berkomentar dengan bijak dan sopan. Jangan gunakan kata-kata kasar, caci maki, bullying, hate speech, dan hal-hal lain yang dapat membuat orang lain tersinggung.