Bakat Kreatif adalah 1 dari 5 Jenis Bakat Khusus yang Bisa Diidentifikasi pada Anak Usia Sekolah

5-jenis-bakat-khusus
total-edukasi.blogspot.com
Bakat Kreatif adalah 1 dari 5 Jenis Bakat Khusus yang Bisa Diidentifikasi pada Anak Usia Sekolah. Mengidentitikasi bakat kreatif siswa-siswa merupakan sesuatu yang penting bagi seorang guru SD/MI karena alasan berikut ini:
  1. Kreativitas sangat bermakna dalam kehidupan. Kreativitas tidak hanya bermanfaat bagi siswa itu sendiri, tetapi juga dapat memberikan sumbangan kepada masyarakat luas.
  2. Melalui pengukuran dan identifikasi bakat kreatif, akan ditemukan pula siswa-siswa yang kemampuan kreatifnya sangat rendah. Bagi siswa-siswa yang demikian, seorang guru harus melakukan remediasi kemampuan kreatif. Kemampuan kreatif (menciptakan imajinasi-imajinasi) sangat diperlukan dalam pemecahan masalah dan sangat bermanfaat bagi pengembangan diri siswa yang bersangkutan sampai ia dewasa.
  3. Dengan memahami bakat kreatif siswa yang terpendam, guru dapat terbantu untuk merancang kegiatan yang menantang dan menarik bagi siswa sehingga tercapai tujuan pembelajaran.
Kemampuan kreatif (menciptakan imajinasi-imajinasi) sangat diperlukan dalam pemecahan masalah dan akan sangat bermanfaat bagi pengembangan diri siswa yang bersangkutan sampai ia dewasa.

Jenis-jenis Bakat Khusus

Berdasarkan definisi dari U.S. Office of Education, bidang-bidang keberbakatan dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1. Bakat akademik khusus

Dalam mengidentifikasi bakat akademik khusus, seorang guru dapat menggunakan tes prestasi akademis. Tes prestasi akademis bertujuan mengukur pembelajaran, pengetahuan tentang fakta dan prinsip, dan kemampuan untuk menerapkannya dalam situasi sehari-hari (Munandar, 1999). Tes prestasi akademik dimaksudkan untuk mengukur prestasi belajar sehubungan dengan kinerja pada mata ajaran di sekolah. dengan demikian tes dapat dibuat oleh guru sendiri. Jika ingin mengidentifikasi kemampuan belajar yang diharapkan untuk semua siswa pada tingkatan tertentu secara nasional, maka digunakan tes prestasi belajar baku.

2. Bakat kreatif

Alat untuk mengidentifikasi bakat kreatif yang berlaku di Indonesia di antaranya kreativitas verbal. Tes ini terdiri dari enam subtes yang mengukur dimensi berpikir divergen. Setiap subtes mengukur aspek yang berbeda dari berpikir kreatif. Keenam subtes dari Tes Kreativitas Verbal adalah Permulaan Kata, Menyusun Kata, Membentuk Kalimat Tiga Kata, Sifat-sifat yang Sama, Macam-macam Penggunaan, dan Apa Akibatnya (Munandar, 1999).

Pada subtes Permulaan Kata, subjek harus memikirkan sebanyak mungkin kata yang dimulai dari suku kata tertentu, contoh: Sa. Siswa diminta untuk membuat kata sebanyak mungkin dari awalan Sa. Subtes Menyusun Kata adalah subtes yang menghendaki siswa menyusun sebanyak mungkin kata dengan menggunakan huruf-huruf dari satu kata yang diberikan. Subtes ini selain mengukur kelancaran kata juga menuntut kemampuan dalam reorganisasi persepsi. Contoh: Proklamasi. Respon yang diharapkan adalah siswa diminta menyusun kata lain dengan huruf-huruf proklamasi (misalnya: aklamasi, pak, kolam, dan lain-lain).

Pada subtes Membentuk Kalimat Tiga Kata, siswa diminta untuk menyusun kalimat yang terdiri dari tiga kata. Huruf pertama untuk setiap kata diberikan, akan tetapi urutan dalam penggunaan ketiga huruf tersebut boleh berbeda-beda. Contoh: A – l – g. Siswa memberi respon Ali lihat gorila, gorila akan lari, dan sebagainya.

Pada subtes Sifat-sifat yang Sama, siswa harus menemukan sebanyak mungkin objek yang semuanya memiliki dua sifat yang ditentukan. Subtes ini mengukur kelancaran dalam memberikan gagasan yang sesuai dengan persyaratan tertentu. Contoh: merah dan cair, siswa memberikan respon darah, sirop marjan, cat air warna merah, gula merah cair, cat dinding merah, dan lain-lain.

Subtes Macam-macam Penggunaan mengharuskan siswa memikirkan sebanyak mungkin penggunaan yang tidak lazim (tidak biasa) dari benda sehari-hari. Subtes ini mengukur kelenturan dan orisinalitas dalam berpikir. Contoh: pensil. Respon siswa misalnya pensil untuk tusuk konde, untuk bercocok tanam, untuk mencetak lingkaran donat, dan lain-lain.

Subtes terakhir yaitu Apa Akibatnya, mengharuskan siswa memikirkan segala sesuatu yang mungkin terjadi dari suatu kejadian. Subtes ini mengukur kelancaran dalam memberikan dan mengembangkan suatu gagasan dengan mempertimbangkan implikasinya. Contoh: Apa akibatnya jika manusia dapat terbang seperti burung? Respon siswa, misalnya: tidak ada kemacetan lalu lintas, jumlah kendaraan berkurang, dan polusi asap kendaraan berkurang. Tes kreativitas verbal ini telah distandarisasi oleh Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Bagian Psikologi Pendidikan, yang menghasilkan nilai baku untuk umur 10-18 tahun, dan dapat diketahui creativity quotient (CQ) berdasarkan konversi dari nilai baku tersebut (Utami Munandar, dkk, dalam Munandar, 1999).

Bentuk tes kreativitas lainnya adalah Tes Kreativitas Figural yang merupakan adaptasi dari Circle Test dari Torrance. Tahun 1988 dilakukan penelitian standarisasi tes ini untuk umur 10-18 tahun oleh Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Bagian Psikologi Pendidikan (Utami Munandar, dkk dalam Munandar, 1999).

3. Bakat seni

Mengenali bakat seni bergantung ahli dalam bidang seni. Diharapkan kemampuan reproduktif di bidang seni, kecenderungan untuk dapat melepaskan tradisional (Munandar, 1999). Pada metode observasi yang dinilai oleh ahli-ahli tersebut tidak hanya menilai tetapi juga kemampuan inovatif, melalui diri dari bentuk seni yang konvensional.

4. Bakat psikomotor

Kemampuan psikomotor tidak hanya diperlukan dalam berolah raga namun juga berbagai kegiatan lain seperti memainkan alat musik dan drama, menari, dan sebagainya. Derajat ketrampilan motorik yang diperlukan untuk masing-masing kegiatan tersebut berbeda-beda.

Dalam melakukan identifikasi kemampuan psikomotorik, diperlukan pemahaman mengenai kemampuan-kemampuan yang terkait dengan kemampuan psikomotorik yang akan diukur. Kemampuan-kemampuan yang terkait dengan kemampuan psikomotorik adalah kemampuan intelektual (seberapa baik pengetahuannya tentang gerakan-gerakan yang dilakukannya), kemampuan khusus yang berkaitan dengan bakat (seberapa berbakat ia pada bidang kegiatan yang dilakukannya), tingkat perkembangan keseluruhan badan (apakah badannya berkembang dengan normal), misalnya kecepatan, kelenturan, koordinasi, dan lain-lain.

5. Bakat sosial

Bakat sosial didefinisikan oleh Marlan (Munandar, 1999) sebagai bakat kepemimpinan yang tidak hanya mencakup kemampuan intelektual, tetapi juga kepribadian. Berdasarkan tinjauan teori dan hasil riset ditemukan bahwa faktor yang paling erat kaitannya dengan kepemimpinan (Stogdill, dikutip Katena, dalam Munandar, 1999) adalah: kapasitas, prestasi, tanggung jawab, peran serta, status, dan situasi.

Keenam faktor yang berkaitan dengan bakat sosial, khususnya kepemimpinan, dapat menjadi acuan bagi guru dalam mengembangkan prosedur identifikasi yang dapat digunakan di sekolah. Ditambahkan oleh Semiawan dan Munandar (Ali & Asrori, 2005) bahwa kemampuan kepemimpinan berkaitan dengan bakat sosial yang menandakan kemampuan dalam melakukan negosiasi, menawarkan suatu produk, dan kemampuan berkomunikasi dalam organisasi.

Identifikasi dan pengukuran bakat kreatif bermanfaat bagi guru, yaitu untuk merancang kegiatan yang menantang dan menarik bagi siswa sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Dalam mengidentiifkasi bidang bakat-bakat khusus, seorang guru dapatmenggunakan tes-tes yang sudah baku atau tes yang dibuat sendiri oleh guru, misalnya tes prestasi akademis, tes kreativitas verbal, mengobservasi kemampuan psikomotorik siswa, dan sebagainya. Semoga bermanfaat!
Bagikan Post:

Jangan Lupa Follow Total-Edukasi untuk Mendapatkan Informasi Terbaru!

0 Response to "Bakat Kreatif adalah 1 dari 5 Jenis Bakat Khusus yang Bisa Diidentifikasi pada Anak Usia Sekolah"

Post a Comment

Mohon berkomentar dengan bijak dan sopan. Jangan gunakan kata-kata kasar, caci maki, bullying, hate speech, dan hal-hal lain yang dapat membuat orang lain tersinggung.