Anda Harus Tahu Inilah 3 Dampak Kelainan pada Anak Berkebutuhan Khusus

3-dampak-kelainan-anak-berkebutuhan-khusus
total-edukasi.blogspot.com
Dampak kelainan yang ditimbulkan pada anak berkebutuhan khusus sering menjadi alasan mengapa sebagian orang “mengucilkan” mereka. Hidup dalam keadaan memiliki kelainan bukanlah kehendak mereka. Banyak faktor penyebab terjadinya anak berkebutuhan khusus yang perlu kita ketahui. Memanusiakan mereka adalah bagian dari cara kita untuk men-support segala kelebihan maupun kekurangan yang mereka miliki. Memiliki kelainan bukan berarti mereka kurang atau terbelakang. Memiliki kelainan juga ditujukan bagi mereka yang memiliki kelebihan dibanding orang-orang yang terlahir normal pada umumnya. Baik kekurangan atau kelebihan yang dimilikinya tentunya bukan sebuah alasan bagi kita membedakan dalam memandang mereka. Perhatian dan dukungan kita kepada mereka adalah cara terbaik dalam memanusiakan mereka atas dampak kelainan yang mereka miliki yang berpengaruh terhadap kehidupan sehari-harinya.
Ilustrasi
Seorang anak remaja usia 16 tahun, dia duduk di kelas 2 IPA SMA mempunyai kebiasaan berangkat sekolah naik motor dengan kecepatan tinggi (ngebut). Pada suatu hari dia kurang konsentrasi dalam pengendarai motornya karena pikirannya terbelah dengan ulangan pelajaran matematika yang akan dihadapi, sehingga dia mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit. Akibat dari benturan pada tulang belakangnya mengakibatkan adanya syaraf penglihatan yang putus sehingga dia diprediksi akan menjadi tunanetra. Setelah menjalani operasi tulang belakang dan dinyatakan sembuh oleh dokter namun ia mengalami kebutaan. Betapa tergoncangnya jiwa anak tersebut, sehingga dia mengalami depresi berat dan harus selalu berada dalam pengawasan psikiater dan psikolog sampai dia dapat menerima keadaannya. Di samping itu keluarga juga memerlukan bimbingan psikologis, agar mampu menghadapi anak berkebutuhan khusus yang baru saja dideritanya.

Dari gambaran ilustrasi tersebut akibat terjadinya berkebutuhan khusus sebagai suatu keadaan pada individu dengan kondisi mental yang lemah termanifestasikan pada bentuk keterlambatan dan ketidak seimbangan di dalam segala aspek. Tantangan membimbing berkebutuhan khusus tersebut sebagai wujud dari hambatan yang dimiliki berkebutuhan khusus. Hambatan itu adalah internalisasi rangsangan lingkungan berakibat anak berkebutuhan khusus tidak mampu memenuhi tuntutan lingkungan secara fisiologis, psikologis dan sosiologis. Berkebutuhan khusus mengalami kesulitan dalam memenuhi tuntutan lingkungan tersebut sebagai dampak dari keadaan kebutuhan khusunya yang berakibat juga pada kondisi sosial psikologis anak berkebutuhan khusus, dan secara rinci diuraikan sebagai berikut:

Dampak Fisiologis


Dampak fisiologis, terutama pada anak-anak yang mengalami kelainan yang berkaitan dengan fisik termasuk sensori-motor terlihat pada keadaan fisik penyandang berkebutuhan khusus kurang mampu mengkoordinasi geraknya, bahkan pada berkebutuhan khusus taraf berat dan sangat berat baru mampu berjalan di usia lima tahun atau ada yang tidak mampu berjalan sama sekali. Tanda keadaan fisik penyandang berkebutuhan khusus yang kurang mampu mengkoordinasi gerak antara lain: kurang mampu koordinasi sensori motor, melakukan gerak yang tepat dan terarah, serta menjaga kesehatan.

Dampak Psikologis


Dampak psikologis timbul berkaitan dengan kemampuan jiwa lainnya, karena keadaan mental yang labil akan menghambat proses kejiwaan dalam tanggapannya terhadap tuntutan lingkungan. Kekurangan mampuan dalam penyesuaian diri yang diakibatkan adanya ketidak sempurnaan individu, akibat dari rendahnya ”self esteem” dan dimungkinkan adanya kesalahan dalam pengarahan diri (self direction).

Dampak Sosiologis


Dampak sosiologis timbul karena hubungannya dengan kelompok atau individu di sekitarnya, terutama keluarga dan saudara-saudaranya. Kehadiran anak berkebutuhan khusus di keluarga menyebabkan berbagai perubahan dalam keluarga. Keluarga sebagai suatu unit sosial di masyarakat dengan kehadiran anak berkebutuhan khusus merupakan musibah, kesedihan, dan beban yang berat. Kondisi itu termanifestasi dengan reaksi yang bermacam-macam, seperti: kecewa, shock, marah, depresi, rasa bersalah dan bingung. Reaksi yang beraneka ini dapat mempengaruhi hubungan antara anggota keluarga yang selamanya tidak akan kembali seperti semula.

Pada umumnya, ibu yang mengalami trauma paling berat dan mendapatkan peran yang terkekang dengan kehadiran anak berkebutuhan khusus. Peran harus memelihara anak berkebutuhan khusus dibutuhkan banyak waktu, sehingga banyak tugas lain semakin berkurang. Dengan tumbuhnya anak berkebutuhan khusus yang semakin besar, muncullah dilemma pada ibu yang fungsinya sebagai penjaga atau pemelihara dan tugasnya untuk menumbuhkan kemandirian anak. Semua masalah di keluarga tersebut merupakan dampak sosiologis yang harus ditanggung oleh keluarga.

Anak berkebutuhan khusus yang kurang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan sosialnya, dapat menimbulkan respon yang negatif dari lingkungan sosial anak berkebutuhan khusus. Hal ini berdampak anak dijauhi atau ditolak oleh lingkungan sosial, dan dalam berkomunikasi akan terjadi jurang pemisah (communication gap) antara anak berkebutuhan khusus dengan orang-orang di lingkungannya. Jurang pemisah dalam hal berkomunikasi dapat terjadi karena orang di lingkungannya menyampaikan pesan verbal yang tidak sesuai dengan kemampuan atau daya tangkap anak berkebutuhan khusus. ”Communication gap” ini merupakan dampak yang menimbulkan salah suai pada anak berkebutuhan khusus.

Dampak keberkebutuhan khusus dari tiga dimensi tersebut menyebabkan pengaruh yang cukup berarti dalam kehidupan mereka. Keterbatasan dan daya kemampuan yang mereka miliki menimbulkan munculnya berbagai masalah. Masalah yang mereka hadapi relatif berbeda-beda, walaupun ada kesamaan yang dirasakan oleh mereka ini sebagai dampak keberkebutuhan kekhususan, dan yang ada kesamaan dirasakan mereka (Amin 1995:41-51) meliputi:

Masalah kesulitan dalam kehidupan sehari-hari


Masalah ini berkaitan dengan kesehatan dan pemeliharaan diri sendiri. Kondisi keterbatasan mereka banyak yang mengalami kesulitan dalam kehidupan sehari-hari terutama pada berkebutuhan khusus kategori berat dan sangat berat. Keadaan itu diharapkan dalam program penanganan memprioritaskan bimbingan dan latihan keterampilan aktifitas kehidupan sehari-hari terutama memelihara diri sendiri, seperti: cara makan, menggosok gigi, memakai baju, memasang sepatu, serta pekerjaan rumah tangga yang sangat sederhana.

Masalah penyesuaian diri


Kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungan dipengaruhi beberapa faktor salah satunya kecerdasan. Kecerdasan yang rendah berakibat hambatan penyesuaian diri, dan pada anak berkebutuhan khusus. Kondisi itu menimbulkan kecenderungan diisolir oleh keluarga maupun masyarakat. Kecenderungan terisolasi pada mereka mengakibatkan pembentukan pribadinya tidak layak, untuk itu dalam program penanganan pada mereka perlu menyarankan kepada keluarga supaya tidak mengisolir.

Masalah penyaluran ke tempat kerja


Keterbatasan pada anak berkebutuhan khusus merupakan problem di dalam mendapatkan pekerjaan. Masalah ini perlu diprioritaskan dalam program penanganan untuk menyiapkan anak berkebutuhan khusus dengan berbagai program keterampilan yang dapat digunakan untuk mencari nafkah atau bekerja. Lembaga penanganan anak berkebutuhan khusus perlu juga memprogramkan penyaluran kerjanya atau membentuk bengkel kerja yang terlindung (sheltered work shop).

Masalah kesulitan belajar


Keterbatasan kemampuan fisiologik dari anak berkebutuhan khusus mengakibatkan kesulitan mencapai prestasi belajar bidang akademik. Kondisi ini perlu diperhatikan bahwa program penanganan diusahakan dapat memenuhi kebutuhan anak untuk mencapai prestasi belajar. Dalam pembelajaran bidang akademik diusahakan materi dan metode, serta equipment yang sesuai dengan kondisi mereka.

Masalah gangguan kepribadian dan emosi


Keterbatasan pada fisiologis anak berkebutuhan khusus menyebabkan keseimbangan pribadinya kurang stabil. Kondisi yang demikian itu dapat dilihat pada penampilan tingkah lakunya sehari-hari, misalnya: berdiam diri berjam-jam lamanya, gerakan yang hiperaktif, mudah marah, mudah tersinggung, suka mengganggu orang lain di sekitarnya, bahkan tindakan merusak (destruktif).

Masalah pemanfaatan waktu luang


Anak berkebutuhan khusus dalam tingkah lakunya sering menampilkan tingkah laku nakal dan mengganggu ketenangan lingkungannya, hal ini terjadi karena anak berkebutuhan khusus tidak mampu berinisiatif yang dipandang layak oleh lingkungan. Mereka tidak mampu menggunakan waktu untuk inisiatif kegiatan yang terarah jika tidak ada yang mengarahkan. Bagi yang pasif cenderung suka berdiam diri atau menjauhkan diri dari keramaian. Kondisi-kondisi yang terjadi pada berkebutuhan khusus itu perlu diperhatikan dalam program penanganan untuk memberi kegiatan saat mereka mempunyai waktu luang. Kegiatan yang terarah saat waktu luang untuk menghindari efek negatif yang dilakukan olehnya karena kegiatannya tidak membahayakan dan tidak mengganggu lingkungan.

Kegiatan yang terarah pada waktu luang merupakan tenggung jawab bersama antara sekolah, pengasuh, dan orang tua. Tanggung jawab bersama ini mutlak dilakukan karena mereka saat berada di manapun kegiatannya harus diarahkan. Waktu luang yang tanpa diarahkan dengan kegiatan berakibat digunakan oleh mereka untuk kegiatan yang negatif.
Bagikan Post:

Jangan Lupa Follow Total-Edukasi untuk Mendapatkan Informasi Terbaru!

0 Response to "Anda Harus Tahu Inilah 3 Dampak Kelainan pada Anak Berkebutuhan Khusus"

Post a Comment

Mohon berkomentar dengan bijak dan sopan. Jangan gunakan kata-kata kasar, caci maki, bullying, hate speech, dan hal-hal lain yang dapat membuat orang lain tersinggung.