Pengertian, Tujuan, dan Fungsi Pendidikan Multikultural

pengertian-tujuan-fungsi-pendidikan-multikultural
total-edukasi.blogspot.com

Pengertian Pendidikan Multikultural

Pertama-tama kita perlu sepakat lebih dahulu tentang pengertian multikultural. Pengertian “Multikultural” secara luas mencakup pengalaman yang membentuk persepsi umum terhadap usia, gender, agama, status sosial ekonomi, jenis identitas budaya, bahasa, ras, dan berkebutuhan khusus.

Ketika membahas multikultural atau studi budaya lainnya, maka konsep ethic dan Emic akan selalu muncul. Ethic dan emic sebenarnya merupakan istilah anthropologi yang dikembangkan Pike (1967). Istilah ini berasal dari kajian anthropologi bahasa, yaitu Phonemics yang merupakan studi yang mempelajari suara unik pada bahasa tertentu dan Phonetics atau studi yang mempelajari bunyi-bunyian yang ditemukan pada semua bahasa (universal) pada semua budaya. Pike memakai istilah Emic dan Ethic untuk menjelaskan dua sudut pandang dalam mempelajari perilaku multikultural. Ethic adalah sudut pandang dalam mempelajari budaya dari luar sistem budaya itu, dan merupakan pendekatan awal dalam mempelajari suatu sistem budaya yang asing. Sedangkan emic sebagai sudut pandang merupakan studi perilaku dari dalam sistem budaya tersebut (Segall, 1990). Ethic adalah aspek kehidupan yang muncul konsisten pada semua budaya, emic adalah aspek kehidupan yang muncul dan benar hanya pada satu budaya tertentu. Jadi, Ethic menjelaskan universalitas suatu konsep kehidupan sedangkan emic menjelaskan keunikan dari sebuah konsep budaya (Matsumoto, 1996).

Pemahaman kedua konsep ini sangat penting dan menjadi dasar dalam memahami budaya dalam Pendidikan Multikultural. Sebuah perilaku manusia kita akui kebenarannya sebagai sebuah ethic, maka dapat dikatakan bahwa perilaku manusia tersebut adalah universal, termasuk dalam kebenarannya. Hasil penelitian yang dapat dilakukan dapat digeneralisasi dan dijadikan dasar dalam penelitian selanjutnya. Misalnya ekspresi tertawa pada semua budaya untuk mengekspresikan rasa senang. Sebaliknya sebuah perilaku atau nilai hanya diketemukan pada satu budaya dan hanya benar pada budaya tersebut, dalam studi Pendidikan Multikultural tidak boleh digeneralisasi dan hanya berlaku pada satu budaya tersebut saja. Misalnya suku Dayak di Kalimantan yang memenggal kepala (perilaku) setiap musuh yang dibunuh atau suku Indian yang mengambil kulit kepala dari musuhnya yang telah meninggal adalah satu perilaku emic yang khas dan benar hanya pada budaya tersebut. Perilaku khas Suku Dayak itu tidak dapat digeneralisir dalam analisa untuk menjelaskan perilaku seluruh suku di Indonesia.

Ada persepsi umum yang berlaku bahwa orang muda harus menghormati yang lebih tua. Karena menjalani status sosial sebagai abdi dalem di keraton Jogja dan Solo, maka orang akan dengan rela berjalan dengan posisi lebih rendah (seperti berjongkok) sebagai wujud penghormatan terhadap rajanya. Di kalangan suku tertentu ada yang menempatkan posisi wanita di belakang laki-laki. Suku Jawa yang memandang wanita sebagai ”tiyang wingking” (tiyang = orang, wingking = belakang) harus dipersepsi sebagai pihak yang memberi dukungan pada sang suami.

Persepsi umum di suku lain melihat ada yang melihat perilaku wanita Bali yang menjadi tukang batu dipandang sebagai melanggar emansipasi wanita, tetapi justru di kalangan wanita Bali tindakan mereka itu dipandang membantu sang suami dan bukan dipandang sebagai pelanggaran hak wanita. Suku Tracia di Bulgaria (Eropah) dan sebuah suku di Costa Rica, Amerika Latin menyambut kelahiran bayi dengan bersedih sementara di tempat lain justru di terima dengan penuh kebahagiaan. Warga Kolok, Bengkala, Buleleng, Bali ada yang menggunakan bahasa isyarat dalam pergaulannya karena hampir 2 % (48 orang di antara 2.894 jiwa) penduduknya bisu tuli (ANTV, 24 Januari 2007). Nilai yang dipandang tinggi dari suku ini adalah kejujuran karena keterbatasan dalam berbahasa ini. Bahasa Jawa terdiri dari bahasa Krama Inggil, Krama Madya dan Ngoko sebagai wujud penghormatan terhadap kalangan tertentu. Misalnya untuk menyebut ”tidur” bisa berbeda penerapan bahasa (Bapak Sare = krama inggil, Mas tilem = krama madya, adik turu = ngoko).

Ada hubungan antara pandangan hidup dan gaya hidup dalam masyarakat tertentu di tanah air ini. Kita ambil contoh, orang Tionghoa memiliki gaya hidup yang hemat demi mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Orang tua kelompok ini selalu menasehati anaknya agar selalu menabung 250 rupiah tiap 1000 rupiah uang yang didapatnya, bagaimana pun caranya. Mereka memiliki gaya hidup yang hemat, bukan pelit. Cobalah Anda cari contoh untuk variabel yang lain di berbagai daerah dan berbagai suku di tanah air!

Pendidikan Multikultural merupakan suatu rangkaian kepercayaan (set of beliefs) dan penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis di dalam membentuk gaya hidup, pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan pendidikan dari individu, kelompok maupun negara (Banks, 2001). Di dalam pengertian ini terdapat adanya pengakuan yang menilai penting aspek keragaman budaya dalam membentuk perilaku manusia.

Lebih lanjut, James A. Banks dalam bukunya ”Multicultural Education,” mendefinisikan Pendidikan Multikultural sebagai berikut:
Multicultural education is an idea, an educational reform movement, and a process whose major goal is to change the structure of educational institutions so that male and female students, exceptional students, and students who are members of diverse racial, ethnic, and cultural groups will have an equal chance to achieve academically in school (Banks, 1993: 1)
Pendidikan Multikultural adalah ide, gerakan pembaharuan pendidikan dan proses pendidikan yang tujuan utamanya adalah untuk mengubah struktur lembaga pendidikan supaya siswa baik pria maupun wanita, siswa berkebutuhan khusus, dan siswa yang merupakan anggota dari kelompok ras, etnis, dan kultur yang bermacam-macam itu akan memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai prestasi akademis di sekolah.

Jadi Pendidikan Multikultural akan mencakup:
  1. Ide dan kesadaran akan nilai penting keragaman budaya.
  2. Gerakan pembaharuan pendidikan.
  3. Proses pendidikan.

Tujuan Pendidikan Multikultural

Hasil yang diharapkan Pendidikan Multikultural terlihat pada definisi, justifikasi, asumsi, dan pola-pola pembelajarannya. Ada banyak variasi tujuan khusus dan tujuan umum Pendidikan Multikultural yang digunakan oleh sekolah sesuai dengan faktor kontekstual seperti visi dan misi belakang sekolah, siswa, lingkungan sekolah, dan perspektif. Tujuan Pendidikan Multikultural dapat mencakup tiga aspek belajar (kognitif, afektif, dan tindakan) dan berhubungan baik nilai-nilai intrinsik (ends) maupun nilai instrumental (means) Pendidikan Multikultural. Tujuan Pendidikan Multikultural mencakup:

1. Pengembangan Literasi Etnis dan Budaya

Salah satu alasan utama gerakan untuk memasukkan Pendidikan Multikultural dalam program sekolah adalah untuk memperbaiki kelalaian dalam penyusunan kurikulum. Pertama, kita harus memberi informasi pada siswa tentang sejarah dan kontribusi dari kelompok etnis yang secara tradisional diabaikan dalam kurikulum dan materi pembelajaran, kedua, kita harus menempatkan kembali citra kelompok ini secara lebih akurat dan signifikan, menghilangkan bias dan informasi menyimpang yang terdapat dalam kurikulum. Yang dimaksud dengan informasi menyimpang ini adalah informasi yang salah tentang sistem nilai dan budaya dari etnis tertentu atau melihat sistem nilai budaya mereka dari sudut pandang kelompok lain. Siswa masih terlalu sedikit mengetahui tentang sejarah, pewarisan, budaya, bahasa, dan kontribusi kelompok masyarakat yang beragam dari bangsanya sendiri.

Jadi, tujuan utama Pendidikan Multikultural adalah mempelajari tentang latar belakang sejarah, bahasa, karakteristik budaya, sumbangan, peristiwa kritis, individu yang berpengaruh, dan kondisi sosial, politik, dan ekonomi dari berbagai kelompok etnis mayoritas dan minoritas. Informasi ini harus komprehensif, analistis, dan komparatif, dan harus memasukkan persamaan dan perbedaan di antara kelompok-kelompok yang ada.

Tujuan ini cocok untuk mayoritas siswa maupun kelompok minoritas etnis. Kesalahan yang sering dibuat adalah menganggap bahwa anggota kelompok etnis minoritas telah mengetahui budaya dan sejarahnya atau bahwa jenis pengetahuan ini hanya relevan untuk mereka, bukan untuk kami. Pendidikan Multikultural berargumentasi sebaliknya. Keanggotaan kelompok etnis tidak menjamin pengetahuan diri atau pemilikan pengetahuan tentang kelompok itu. Orang yang berasal dari Jawa tidak otomatis mengetahui budaya Jawa. Orang Bali tidak otomatis mengetahui keyakinan dan budaya yang ada di daerahnya. Mempelajari sejarah, kehidupan, dan budaya kelompok etnis cocok untuk semua siswa karena mereka perlu belajar lebih akurat tentang warisan budayanya sendiri maupun budaya orang lain. Lebih dari itu, pengetahuan tentang pluralisme budaya merupakan dasar yang diperlukan untuk menghormati, mengapresiasi, menilai dan memperingati keragaman, baik lokal, nasional dan internasional.

2. Perkembangan Pribadi

Dasar psikhologis Pendidikan Multikultural menekankan pada pengembangan pemahaman diri yang lebih besar, konsep diri yang positif, dan kebanggaan pada identitas pribadinya. Penekanan bidang ini merupakan bagian dari tujuan Pendidikan Multikultural yang berkontribusi pada perkembangan pribadi siswa, yang berisi pemahaman yang lebih baik tentang diri yang pada akhirnya berkontribusi terhadap keseluruhan prestasi intelektual, akademis, dan sosial siswa. Siswa merasa baik tentang dirinya sendiri karena lebih terbuka dan reseptif (menerima) dalam berinteraksi dengan orang lain dan menghormati budaya dan identitasnyanya. Pendapat ini mendapat justifikasi lebih lanjut dengan temuan penelitian yang berkaitan dengan adanya hubungan timbal balik antara konsep diri, prestasi akademis, identitas individu, etnis dan budaya.

Para siswa telah menginternalisasi konsep negatif dan salah tentang etnisnya sendiri dan kelompok etnis lain. Siswa dari kelompok lain mungkin berpendirian bahwa warisan budayanya hanya memiliki nilai tawar yang kecil, sedangkan nilai yang ada pada kelompok dominan mungkin terlalu ditinggikan. Mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang diri mereka sendiri dan pengalaman budaya dan kelompok etnis yang lain dapat memperbaiki penyimpangan ini. Pendidikan Multikultural juga membantu mencapai tujuan memaksimalkan potensi kemanusiaan, dengan memenuhi kebutuhan individu, dan mengajar siswa seutuhnya dengan mempertinggi rasa penghargaan pribadi, kepercayaan dan kompetensi dirinya. Pendidikan Multikultural menciptakan kondisi kesiapan psikhososial dalam diri individu dan lingkungan belajar yang memiliki efek positif pada upaya dan penguasaan tugas akademis.

3. Klarifikasi Nilai dan Sikap

Pendidikan Multikultural mengangkat nilai-nilai inti yang berasal dari prinsip martabat manusia (human dignity), keadilan, persamaan, kebebasan, dan demokrasi. Maksudnya adalah mengajari generasi muda untuk menghargai dan menerima pluralisme etnis, menyadarkan bahwa perbedaan budaya tidak sama dengan kekurangan atau rendah diri, dan untuk mengakui bahwa keragaman merupakan bagian integral dari kondisi manusia. Pengklarifikasian sikap dan nilai etnis didesain untuk membantu siswa memahami bahwa berbagai konflik nilai itu tidak dapat dielakkan dalam masyarakat pluralistik; dan bahwa konflik tidak harus menghancurkan dan memecah belah. Jika kita mengelola dengan baik hal itu akan dapat menjadi katalis kemajuan sosial dan ada kekuatan dalam pluralisme etnis dan budaya; bahwa kesetiaan etnis (ethnic allegiance) dan loyalitas nasional (national loyalty) bukan tidak dapat didamaikan; dan bahwa kerjasama dan koalisi di antara kelompok etnis tidak tergantung pada pemilikan keyakinan, nilai, dan perilaku yang sama. Menganalisa dan mengklarifikasi sikap dan nilai etnis merupakan langkah kunci dalam proses melepaskan potensi kreatif individu untuk memperbarui diri dan masyarakat untuk tumbuh-kembang lebih lanjut.

4. Kompetensi Multikultural

Penting sekali bagi siswa untuk mempelajari bagaimana berinteraksi dengan dan memahami orang yang secara etnis, ras, dan kultural berbeda dari dirinya. Dunia kita menjadi semakin lebih beragam, kompak, dan saling tergantung. Namun, bagi sebagian besar siswa, awal-awal pembentukan kehidupannya dihabiskan dengan isolasi atau terkurung di daerah kantong secara etnis dan kultural. Kita biasa hidup dalam kantong-kantong budaya yang sempit yang hanya mengenal budaya yang sempit pula. Peralihan dari generasi ke generasi mengalami penurunan pemahaman akan budaya kita. Nenek kita lebih mengenal budaya daerah kita. Orang tua kita mengalami sedikit pengurangan dalam memahami budayanya. Akhirnya dia mengajarkan nilai-nilai budaya yang tidak utuh itu pada kita. Akhirnya jadilah anak kita yang terkungkung oleh kepicikan budaya yang serba kurang dan menyimpang dari akar budaya yang sesungguhnya. Mungkin kita bukan orang Batak tulen atau Bali tulen yang benar-benar memahami budaya kita. Kita tidak menyiapkan lingkungan dan latar belakang multikultural yang berbeda untuk pembelajaran.

Upaya interaksi lintas kultural seringkali terhalang oleh nilai, harapan dan sikap negatif ; kesalahan budaya (cultural blunders); dan dengan mencoba menentukan aturan etiket sosial (rules of social etiquette) dari satu sistem budaya terhadap sistem budaya yang lain. Hasilnya seringkali adalah frustasi, kecemasan, ketakutan, kegagalan dan permusuhan kelompok antarras dan antaretnik.

Pendidikan Multikultural dapat meredakan ketegangan ini dengan mengajarkan ketrampilan dalam komunikasi lintas budaya, hubungan antar pribadi, pengambilan perspektif, analisis kontekstual, pemahaman sudut pandang dan kerangka berpikir alternatif, dan menganalisa bagaimana kondisi budaya mempengaruhi nilai, sikap, harapan, dan perilaku. Pendidikan Multikultural dapat membantu siswa mempelajari bagaimana memahami perbedaan budaya tanpa membuat pertimbangan nilai yang semena-mena tentang nilai intrinsiknya. Untuk mencapai tujuan ini anak dapat diberi pengalaman belajar dengan memberi berbagai kesempatan pada siswa untuk mempraktekkan kompetensi budaya dan berinteraksi dengan orang, pengalaman, dan situasi yang berbeda.

5. Kemampuan Ketrampilan Dasar

Tujuan utama Pendidikan Multikultural adalah untuk memfasilitasi pembelajaran untuk melatih kemampuan ketrampilan dasar dari siswa yang berbeda secara etnis. Pendidikan Multikultural dapat memperbaiki penguasaan membaca, menulis dan ketrampilan matematika; materi pelajaran; dan ketrampilan proses intelektual seperti pemecahan masalah, berpikir kritis, dan pemecahan konflik dengan memberi materi dan teknik yang lebih bermakna untuk kehidupan dan kerangka berpikir dari siswa yang berbeda secara etnis. Menggunakan materi, pengalaman, dan contoh-contoh sebagai konteks mengajar, mempraktekkan, dan mendemonstrasikan penguasaan ketrampilan akademis dan mata pelajaran dapat meningkatkan daya tarik pembelajaran, mempertinggi relevansi praktis ketrampilan yang dipelajari, dan memperbaiki tempo siswa dalam melaksanakan tugas. Kombinasi kondisi ini akan membimbing ke arah upya yang lebih terfokus, penguasaan ketrampilan dan prestasi akademis. Misalnya, kita menggunakan sempoa dari etnis Tionghoa untuk melatih ketrampilan di bidang aritmatika.

Aspek lain dari Pendidikan Multikultural yang berkontribusi secara langsung pada level pencapaian ketrampilan dasar yang lebih tinggi adalah kesesuaian dengan gaya belajar dan mengajar. Tidak adanya titik temu dalam bagaimana siswa yang berbeda mempelajari masyarakat budayanya dan bagaimana mereka diharapkan belajar di sekolah menyebabkan banyak waktu dan perhatian dicurahkan pada pemecahan konflik daripada berkonsentrasi dalam tugas akademis itu sendiri.

Mengajari siswa supaya biasa belajar meminimalkan konflik ini dan menyalurkan energi dan upaya secara langsung lebih diarahkan pada penyelesaikan tugas akademis. Jadi, pengajaran kontekstual secara kultural dalam melakukan proses pendidikan lebih efektif untuk siswa yang beragam secara etnis menjadi prinsip mendasar dari Pendidikan Multikultural.

Jenis iklim sosial yang ada di kelas juga mempengaruhi kinerja siswa adalam tugas akademis. Pengaruh ini terutama benar untuk kelompok etnis yang mempertimbangkan hubungan sosial dan latar belakang informal untuk proses belajar. Jika guru merespon kebutuhan ini dengan memasukkan simbol, gambar, dan informasi etnis dalam dekorasi ruang kelas, isi kurikulum dan interaksi interpersonal, maka siswa merasa nyaman dan memiliki afiliasi yang lebih besar dengan sekolah.

Perasaan nyaman ini menciptakan latar belakang keterhubungan pribadi yang merupakan esensi rasa kepemilikan dalam belajar yang pada gilirannya lebih membimbing ke arah perhatian, upaya, dan waktu yang lebih terarah pada tugas, dan memperbaiki penguasaan tugas dan prestasi akademik.

6. Persamaan dan Keunggulan Pendidikan

Tujuan persamaan multikultural berkaitan erat dengan tujuan penguasaan ketrampilan dasar, namun lebih luas dan lebih filosofis. Untuk menentukan sumbangan komparatif terhadap kesempatan belajar, pendidik harus memahami secara keseluruhan bagaimana budaya membentuk gaya belajar, perilaku mengajar, dan keputusan pendidikan. Mereka harus mengembangkan berbagai alat untuk melengkapi hasil belajar yang menggambarkan preferensi dan gaya dari berbagai kelompok dan individu. Dengan memberi pilihan yang lebih pada semua siswa pilihan tentang bagaimana mereka akan belajar, pilihan yang sesuai dengan gaya budaya mereka, tidak seorang pun akan terlalu dirugikan atau diuntungkan pada level prosedural dari belajar. Pilihan ini akan membimbing ke paralelisme (misalnya persamaan) dalam kesempatan belajar dan lebih komparatif dalam prestasi maksimum siswa dalam kemampuan intelektualnya.

Aspek lain dari tujuan memasukkan informasi akurat dalam mengajarkan tentang masyarakat adalah mengembangkan rasa kesadaran sosial (a sense of social consciousness), keberanian moral, dan komitmen terhadap persamaan; dan memperoleh ketrampilan dalam aktivitas politik untuk mereformasi masyarakat untuk membuatnya lebih manusiawi, simpatik terhadap pluralisme kultural, keadilan moral, dan persamaan. Oleh karena itu tujuan multikultural untuk mencapai persamaan dan keunggulan pendidikan mencakup kognitif, afektif dan ketrampilan perilaku, di samping prinsip demokrasi (Banks, 1993).

7. Memperkuat Pribadi untuk Reformasi Sosial

Tujuan terakhir dari Pendidikan multikultural adalah memulai proses perubahan di sekolah yang pada akhirnya akan meluas ke masyarakat. Tujuan ini akan melengkapi penanaman sikap, nilai, kebiasaan dan ketrampilan siswa sehingga mereka menjadi agen perubahan sosial (social change agents) yang memiliki komitmen yang tinggi dengan reformasi masyarakat untuk memberantas perbedaan (disparities) etnis dan rasial dalam kesempatan dan kemauan untuk bertindak berdasarkan komitmen ini. Untuk melakukan itu, mereka perlu memperbaiki pengetahuan mereka tentang isu etnis di samping mengembangkan kemampuan pengambilan keputusan, ketrampilan tindakan sosial, kemampuan kepemimpinan, dan komitmen moral atas harkat dan persamaan. Mereka tidak hanya perlu memahami dan mengapresiasi mengapa pluralisme etnis dan budaya itu ada, namun juga bagaimana menterjemahkan pengetahuan kepada keputusan dan tindakan yang berhubungan dengan isu, peristiwa dan situasi sosiopolitis yang esensial.

Tujuan dan pengembangan ketrampilan ini didesain untuk membuat masyarakat lebih benar-benar egaliter dan lebih menerima pluralisme kultural. Juga dimaksudkan untuk menjamin bahwa kelompok etnis dan budaya yang secara tradisional menjadi korban dan terasingkan akan lebih berpartisipasi secara penuh pada semua level masyarakat, dengan semua hak, dan tanggung jawab yang menyertainya. Pendidikan Multikultural berkontribusi secara langsung terhadap warga negara yang demokratis di dalam global village (Swiniarski, 1999). Fungsi multikulturalisme ini adalah apa yang dimaksudkan Banks dengan pendekatan aksi sosial dari Pendidikan Multikultural, yang mengajari siswa bagaimana menjadi kritikus sosial (social critics), aktivis politik (political activists), agen perubahan (change agents), dan pemimpin yang berkompeten dalam masyarakat dan yang berbeda secara etnis dan pluralistik secara kultural. Juga sama dengan konsep Grant tentang Pendidikan multikultural untuk rekonstruksi sosial. Pendekatan ini berfokus pada penindasan dan ketidak samaan struktur sosial, dengan perhatian menciptakan suatu masyarakat yang lebih mampu dan melayani kebutuhan dan kepentingan semua kelompok orang. Pendekatan ini membangun penguatan pribadi dengan menetapkan relevansi antara pelajaran sekolah dengan kehidupan sosial, dengan memberi latihan menerapkan pengetahuan dan pengambilan tindakan langsung dengan kehidupannya sendiri, dan mendemonstrasikan kekuatan pengetahuan, upaya kolaboratif, dan aksi politis dalam mempengaruhi perubahan sosial. Pendidikan Multikultural akan membantu siswa dari berbagai kelompok budaya yang berbeda dalam memperoleh ketrampilan akademik yang dibutuhkan untuk fungsinya di dalam masyarakat yang berpengetahuan (a knowledge society).

Pendidikan Multikultural merupakan pendidikan untuk hidup (an education for life) dalam masyarakat yang ber-Pancasila. Membantu siswa melampaui batas-batas budayanya dan memperoleh pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk keterlibatannya di dalam wacana publik dengan orang yang berbeda dengan dirinya. Pendidikan Multikultural juga membantu siswa mempelajari ketrampilan yang dibutuhkan untuk berpartisipasi di dalam tindakan kewarganegaraan (a civic action), yang merupakan bagian integral dari negara yang berlandaskan Pancasila.

Pendidikan Multikultural bukan hanya didasarkan pada tradisi demokratis negara, namun memiliki fungsi esensial bagi daya tahan dari suatu tradisi demokratis, pluralistis di abad mendatang (for the survival of a democratic, pluralistic traditions in next century).

8. Memiliki wawasan kebangsaan/kenegaraan yang kokoh

Dengan mengetahui kekayaan budaya bangsa itu akan tumbuh rasa kebangsaan yang kuat. Rasa kebangsaan itu akan tumbuh dan berkembang dalam wadah negara Indonesia yang kokoh. Untuk itu Pendidikan Multikultural perlu menambahkan materi, program dan pembelajaran yang memperkuat rasa kebangsaan dan kenegaraan dengan menghilangkan etnosentrisme, prasangka, diskriminasi dan stereotipe.

9. Memiliki wawasan hidup yang lintas budaya dan lintas bangsa sebagai warga dunia

Hal ini berarti individu dituntut memiliki wawasan sebagai warga dunia (world citizen). Namun siswa harus tetap dikenalkan dengan budaya lokal, harus diajak berpikir tentang apa yang ada di sekitar lokalnya. Mahasiswa diajak berpikir secara internasional dengan mengajak mereka untuk tetap peduli dengan situasi yang ada di sekitarnya – act locally and globally.

10 Hidup berdampingan secara damai

Dengan melihat perbedaan sebagai sebuah keniscayaan, dengan menjunjung tinggi nilai kemanusian, dengan menghargai persamaan akan tumbuh sikap toleran terhadap kelompok lain dan pada gilirannya dapat hidup berdampingan secara damai.

Fungsi Pendidikan Multikultural

The National Council for Social Studies (Gorski, 2001) mengajukan sejumlah fungsi yang menunjukkan pentingnya keberadaan dari Pendidikan Multikultural. Fungsi tersebut adalah:
  1. memberi konsep diri yang jelas.
  2. membantu memahami pengalaman kelompok etnis dan budaya ditinjau dari sejarahnya.
  3. membantu memahami bahwa konflik antara ideal dan realitas itu memang ada pada setiap masyarakat.
  4. membantu mengembangkan pembuatan keputusan (decision making), partisipasi sosial dan ketrampilan kewarganegaraan (citizenship skills).
  5. mengenal keberagaman dalam penggunaan bahasa.
Pendidikan Multikultural memberi tekanan bahwa sekolah pada dasarnya berfungsi mendasari perubahan masyarakat dan meniadakan penindasan dan ketidak adilan. Fungsi pendidikan multikultural yang mendasar adalah mempengaruhi perubahan sosial. Jalan di atas dapat dirinci menjadi tiga butir perubahan:
  1. perubahan diri
  2. perubahan sekolah dan persekolahan
  3. perubahan masyarakat
Perubahan diri dimaknai sebagai perubahan dimulai dari diri siswa sendiri itu sendiri yang lebih menghargai orang lain agar dia bisa hidup damai dengan sekelilingnya. Kemudian diwujudkan dalam tata tutur dan tata perlakunya di lingkungan sekolah dan berlanjut hingga di masyarakat. Karena sekolah merupakan agen perubahan, maka diharapkan ada perubahan yang terjadi di masyarakat seiring dengan terjadi perubahan yang terdapat dalam lingkungan persekolahan. (Gorski, 2001).

Jangan Lupa Follow Total-Edukasi untuk Mendapatkan Informasi Terbaru!

0 Response to "Pengertian, Tujuan, dan Fungsi Pendidikan Multikultural"

Post a Comment

Mohon berkomentar dengan bijak dan sopan. Jangan gunakan kata-kata kasar, caci maki, bullying, hate speech, dan hal-hal lain yang dapat membuat orang lain tersinggung.